Minggu, 02 Oktober 2011

sastra era 90-an

Kesastraan Indonesia terkini menampakkan perkembangan yang cukup menarik untuk dicermati. Pada ragam fiksi, fenomena fiksi seksual sudah menampakkan tanda-tanda antiklimaks, dan disusul dengan makin maraknya fiksi sejarah dengan tafsir-tafsir baru. Pada sisi lain, fenomena fiksi Islami terus melahirkan karya-karya best seller, meski secara permukaan juga menampakkan tanda-tanda kejenuhan pasar.

Berbeda dengan ragam fiksi yang perkembangannya hampir selalu disambut pembicaraan yang cukup gegap gempita (terutama tentang kecenderungan fiksi seksual), perkembangan ragam puisi tampak adem-adem saja. Padahal, ratusan ‘penyair baru’ terus berlahiran, ribuan puisi terus ditulis dan disebar ke berbagai rubrik sastra di media massa, jurnal dan majalah khusus sastra, serta buku-buku antologi puisi (bersama) dan kumpulan sajak (tunggal).

Sepinya perbincangan ataupun polemik tentang puisi, bisa jadi karena secara estetik maupun tematik tidak ada ‘pencapaian baru’ yang mengejutkan dan mampu menghentak perhatian para pengamat dan kritisi sastra. Para pengamat atau kritisi sastra masih melihat sajak-sajak yang bertebar itu hanya memiliki kualitas estetik yang rata-rata, atau standar layak muat di media massa saja, dengan tema-tema yang cenderung stereotype. Alias, tidak ada ‘kejutan estetik’ baru, yang menonjol di antara ribuan sajak yang dipublikasikan itu.

Namun, bisa jadi sebenarnya ‘prestasi estetik baru’ itu telah ada di antara kesemarakan tersebut. Tetapi, persoalan yang sesungguhnya adalah tidak adanya kritisi atau pengamat sastra yang kini dapat berperan sebagai ‘penemu yang jeli’ seperti peran yang dilakukan HB Jassin ketika menemukan sekaligus membesarkan Chairil Anwar dan Taufiq Ismail, serta menempatkan masing-masing pada posisi terhormat sebagai pelopor Angkatan 45 dan Angkatan 66.

Pasca HB Jassin sebenarnya ada beberapa kritisi atau pengamat sastra yang cukup jeli, sungguh-sungguh dan independent, serta sempat menulis beberapa buku kritik sastra. Misalnya, Subagio Sastrowardoyo yang menghasilkan buku Sosok Dalam Sajak, kemudian A Teeuw yang menghasilkan buku Tergantung Pada Kata.

Hampir bersamaan dengan mereka, ada Korrie Layun Rampan, yang menghasilkan beberapa buku — namun kini Korrie ‘meninggalkan dunia sastra’ dan memilih menjadi anggota DPRD Kutai Barat. Pasca-Korrie, saat ini juga ada Maman S Mahayana yang rajin menulis kritik sastra. Namun, agaknya Korrie maupun Maman belum menemukan karya besar yang monumental dari generasi sastra Indonesia terkini.

Upaya untuk menarik perhatian para pengamat dan kritisi sastra sebenarnya telah dilakukan oleh sejumlah penyair. Binhad Nurrohmat, misalnya, mencoba mencari perhatian dengan puisi-puisi bercitraan seputar selangkangan. Namun, hanya sempat menimbulkan ‘percikan’ sesaat, karena kemunculannya terkesan ‘menunggang’ kecenderungan fiksi seksual yang dimulai oleh Ayu Utami dengan novel Saman-nya yang disambut maraknya pembicaraan tentang fiksi seksual di Tanah Air.

Perhatian justru berhasil diperoleh oleh Joko Pinurbo, yang bermain-main dengan citraan-citraan sederhana seputar sarung dan celana. Setidaknya, tema-tema keseharian yang sepele dan citraan-citraan unik yang dipilih Joko berhasil menarik perhatian para juri Khatulistiwa Literary Award 2005 yang menghadiahinya penghargaan cukup bergengsi tersebut.

Keberhasilan Ayu Utami (juga Djenar Maesa Ayu dan Dinar Rahayu) dengan fiksi-fiksi seksualnya, ditambah keberhasilan Joko Pinurbo dengan tema-tema sepele dan citraan-citraan seputar sarung dan celana, di satu sisi harus diakui memang cukup menyegarkan kembali tradisi sastra Indonesia yang menampakkan tanda-tanda kejenuhan. Tapi, pada sisi lain juga makin menegaskan telah berakhirnya ‘peran kepujanggan’ bagi sastrawan. Sastrawan ‘membebaskan diri’ dari peran-peran ideal, seperti memberikan pencerahan dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada masyarakat pembaca.

Kecenderungan tersebut tentu juga dapat dibaca sebagai terjadinya ‘degradasi peran sastrawan’ dalam masyarakat. Sastrawan jatuh dari peran pencerahan ke peran yang sekadar menghibur. Sastra jatuh dari peran yang transenden ke peran yang sangat profan. Bahkan, pada kasus Ayu Utami, sastra menjadi pendorong dereligiusitasi (baca: gerakan anti peran agama) dalam masyarakat, khususnya dalam masalah seksual. Gagasan Ayu Utami yang ingin ‘membebaskan seks’ dari peran agama makin tampak jelas jika kita membaca esei-eseinya, terutama yang dimuat di Majalah X-Magazine.

Tepat sekali hasil analisis Katrin Bandel dalam buku Seks, Sastra, Perempuan (2006), bahwa sensasi yang muncul atas novel-novel seksual Ayu Utami adalah berlebihan. Karena, karya-karya itu sebenarnya biasa-biasa saja. Menurut Katrin, sensasi berlebihan itu justru malah merugikan sastra Indonesia. Sebab, sensasi itu malah mengalihkan perhatian masyarakat dan pengamat sastra dari karya-karya yang sesungguhnya lebih bagus dan lebih pantas untuk diperbincangkan.

Menyusul berkembangnya fiksi seksual, sebenarnya berkembang pula fiksi Islami yang dipelopori oleh para penulis Forum Lingkar Pena (FLP) dan berhasil menjadi bacaan alternatif yang lebih sehat bagi masyarakat. Di antara karya para penulis FLP, seperti karya Asma Nadia, Pipiet Senja, dan Habiburrahman El-Shirazy, bahkan berhasil mencapai best seller. Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy, misalnya, kini dapat melampaui angka penjualan novel Saman karya Ayu Utami, dengan terjual lebih dari 250.000 eksemplar.

Di luar fiksi seksual dan fiksi Islami, sebenarnya tetap banyak ditulis juga fiksi-fiksi yang tetap bermain pada tema-tema kemanusiaan yang universal (humanisme universal). Tidak kurang pula fiksi-fiksi yang mengeksplorasi kearifan serta kekayaan budaya lokal, seperti karya-karya Ahmad Tohari, Kuntowijoyo, Wisran Hadi, Taufik Ikram Jamil, dan Dianing Widya Yudistira. Sementara, Seno Gumira Ajidarma, selain mengangkat dunia pewayangan, juga banyak menggarap tema-tema sosial. Belakangan, banyak muncul juga novel-novel yang mengangkat sejarah, seperti Dyah Pitaloka (2005) karya Hermawan Aksan dan trilogi novel Gajah Mada (2006-2007) karya Langit Kresna Hariadi.

Fiksi-fiksi yang tidak mengandalkan sensasi seksual yang mengatasnamakan ‘pembebasan kaum perempuan’, seperti asumsi Katrin Bandel, bisa jadi lebih bagus dan lebih berarti bagi pertumbuhan sastra Indonesia. Tetapi, agaknya, perhatian media dan pengamat sastra, untuk sementara ini, lebih tertuju pada fiksi-fiksi seksual. Kecenderungan itu dapat dianggap sebagai ‘kerugian besar’ bagi sejarah sastra Indonesia, karena tidak mendapatkan catatan yang jujur, tajam, dan objektif atas perkembangan sastra Indonesia yang sesungguhnya.

*Tulisan ini adalah Pengantar untuk Sesi Diskusi Pesta Penyair Indonesia 2007, Sempena The 1st Medan International Poetry Gathering, di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan, 26 Mei 2007.

PERKEMBANGAN TEORI SASTRA MUTAKHIR

Perkembangan kritik sastra akademis di Indonesia dewasa ini, sesungguhnya berutang budi pada kritik sastra aliran Rawamangun. Terlepas dari segala kekurangannya, kritik Rawamangun telah menanamkan satu tradisi ilmiah dalam pengkajian sastra.

Kini, berbagai perkembangan kritik sastra di Barat yang juga mulai semarak di Indonesia selepas tahun 1980-an, makin memberi kemungkinan lain yang lebih beragam dari pendekatan struktural yang dipegang teguh kritik aliran Rawamangun. Teks sastra yang semula diperlakukan sebagai struktur yang otonom dan mandiri, terlepas dari konteks sosio-kultural, menjadi objek kajian yang dapat dihubungkaitkan dengan teks-teks lain di luar sastra.

Satu kecenderungan baru yang marak belakangan ini adalah mun-culnya berbagai tulisan yang secara tidak tepat menyinggung kritik sastra mutakhir. Konsep atau istilah strukturalisme, dekonstruksionisme, hermeneutika, resepsi sastra, dan semiotika dibicarakan secara agak serampangan. Akibatnya, sudah dapat diduga, kritik sastra yang mestinya berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara pengarang –lewat teks– dan pembaca, menjadi sebuah hutan belantara yang gelap dan menyesatkan. Dalam konteks itulah, buku ini niscaya dapat dijadikan sebagai panduan mendasar dan berharga guna memahami apa yang sesungguhnya hendak dicapai aliran-aliran itu dan bagaimana lalu-lintas aliran-aliran itu berkembang dan berusaha saling melengkapi.

Pada bagian Kata Pengantar, misalnya, Fokkema dan Kunne-Ibsch memaparkan secara singkat bagaimana perkembangan kritik sastra tahun 1970-an yang diwakili hermeneutik versus studi sastra yang empiris berkembang sedemikian pesatnya. Pada dasawarsa yang sama, muncul pula naratologi, kritik dekonstruksi, dan ideologis. Dan dengan caranya sendiri, sebuah teks sastra dibongkar dan dihubungkan dengan berbagai disiplin yang berbeda (hlm. xi). Lalu, timbul pertanyaan: di mana tempatnya kritik sastra?

Dalam melakukan interpretasi teks, kritik memerlukan teori. Perlu adanya mengenai konsep sastra dan kriteria penilaian dalam kritik sastra. Di sini, kita melihat, betapa simpang-siur perdebatan konsep sastra, perumusan teori dan keperluannya dalam menentukan kriteria penilaian. Dalam hal ini, “teori sastra harus menciptakan dasar konsep yang universal yang dapat dipakai mendeskripsikan fakta-kata tertentu” (hlm. 12).

Selanjutnya kedua penulis Belanda itu mencermati secara tajam “Formalisme Rusia,
 Strukturalisme Ceko dan Semiotik Soviet”.Meski uraiannya begitu njlimet, kita disajikan serangkaian catatan kritis atas gagasan dasar kaum formalis yang kemudian kelak menjadi cikal-bakal strukturalisme. Bahwa kaum formalis telah berjasa membawa studi sastra sebagai kegiatan ilmiah yang lalu ditekankan Roman Jakobson mengenai pentingnya ilmu sastra sebagai cabang ilmu tersendiri, telah mengundang banyak ilmuwan memasuki perdebatan akademis. Tak pelak lagi, bagian ini menjadi penting manakala kita hendak memahami percabangannya menuju strukturalisme Prancis.

Di Prancis, strukturalisme semula berkembang agak tersendat. Namun berkat perjuangan kaum strukturalis dalam menentang pendukung gagasan faktualitas yang diwariskan positivisme dan individualitas yang ditekankan eksistensialisme, strukturalisme mendapat tempat dan momentum yang tepat. Bahkan, strukturalisme linguistik pasca-Saussure dan strukturalisme antropologi lambat-laun makin semarak. Belakangan, muncul pula Raymond Picard sebagai wakil kritik lama dan dan Roland Barthes sebagai wakil kritik baru.

Ada tiga kecenderungan perkembangan strukturalisme Prancis: Pertama, kritik strukturalisme dengan tokoh sentral, antara lain, Merleau-Ponty dan Barthes. Kedua, naratologi strukturalis yang bersandar pada gagasan Vladimir Propp versus Greimas. Ketiga, deskripsi teks strukturalis-linguistik khasnya lewat gagasan Claude Levi-Strauss dan Michael Riffaterre.

Bagian penting lainnya dalam buku ini menyangkut pembicaraan teori sastra Marxis. Di sini Fokkema dan Kunne-Ibsch mengungkapkan secara kritis landasan teori sastra Marxis. Uraiannya dimulai dari gagasan materialisme-dialektika Marx-Engels dan Lenin; yang disertai pula dengan deskripsi latar belakang Realisme Sosialis sampai ke neo-Marxisme Georg Lukacs. Perkembangan teori sastra Marxis di Cina baru mendapat perhatian setelah Gerakan Empat Mei (1919). Selepas itu, tumbuh pesat gerakan sastra dan jurnal sastra yang membahas seni untuk seni sampai ke utilitarianisme Marxis (hlm. 133). Belakangan, teori sastra Marxis didasarkan pada gagasan Mao. Namun, karena terlalu meyakini ideologi Marxis, teori sastra Mao di Cina pada dasarnya menolak eksperimentasi dan perbedaan pendapat.

Dalam teori sastra neo-Marxisme, karya-karya avant-garde justru menjadi salah satu bahan perdebatan. Dari keberatan Lukacs atas ekspresionisme yang dipertentangkan dengan realisme, Bertold Brecht, Ernst Bloch, Theodor W. Adorno dan bahkan tokoh-tokoh neo-Marxisme sendiri, terlibat dalam perdebatan itu. Menurut Adorno, Lukacs terlalu dogmatis dalam memberi batasan mengenai Realisme Sosialis. Dari konteks perdebatan itu, Fokkema dan Kunne-Ibsch memasukkan Lukacs ke dalam kotak Marxis ortodoks, sementara yang lain, di antaranya, Adorno, Lucien Goldmann, Walter Benyamin, dan Fredric Jameson, termasuk neo-Marxisme.

Satu hal yang menarik dalam bagian ini adalah uraian mengenai gagasan Realisme Sosialis yang mengingatkan kita pada propaganda seniman Lekra tahun 1960-an. Sesungguhnya, Realisme Sosial, baik yang hendak diterapkan di Cina, maupun yang dijadikan sebagai bagian garis politik partai, tidak lebih dari teori sastra yang penuh dengan pemaksaan ideologis.

Agak berbeda dengan teori sastra yang sudah dibicarakan sebelumnya, resepsi sastra tidak begitu menekankan pada teks sastra, melainkan pada pemaknaannya atas teks. Seperti dikatakan Jurij M. Lotman, “Realitas kultural dan historis yang disebut karya sastra tidak berhenti di dalam teks. Teks hanyalah salah satu unsur dalam suatu relasi. Nyatanya karya sastra terdiri atas teks dalam relasinya dengan ekstratekstual; dengan norma-norma sastra, tradisi, dan imajinasi” (hlm. 174). Dalam hal ini, “teori resepsi menghargai relativisme kultural dan relativisme historis …” (hlm. 175).

Begitulah, para ahli resepsi sastra (Jerman), banyak yang memanfaatkan sejarah, hermeneutika dan strukturalisme, meski tekanan pada bidang-bidang itu berbeda. Maka, tidak terhindarkan pemikiran Hans Robert Jauss, Wolfgang Iser dan Roman Ingarden dijadikan sebagai landasan teori resepsi. Aliran Konstanz, misalnya, secara gencar menerapkan teori Jauss; kelompok Werner Bauer mengembangkannya menjadi analisis kontemporer, dan bukan analisis historis, sementara Georg Just mendasari gagasannya dengan menggabungkan teori Iser dan Jauss.

Di luar itu, muncul pula pendekatan sosial-politik, sebagaimana yang dilakukan Manfred Durzal yang berbeda dengan pendekatan Georg Just. Menurutnya, estetika resepsi yang meneliti kondisi-kondisi putusan kritis harus memusatkan perhatiannya pada dunia kesadaran politik dan sosial, sebagaimana yang tersirat dalam novel-novel Amerika dan Jerman.

Bagian akhir dalam buku ini mengungkapkan peluang bagi pengembangan teori sastra yang lain yang lebih beragam. Semiotika yang dikembangkan Umberto Eco, sosiologi pengetahuan yang ditekankan Jauss atau yang berdasarkan pada pemikiran sosiologi Peter Berger dan Thomas Luckman, sesungguhnya sangat memungkinkan menemukan fungsi-fungsi kognitif seni atau setidak-tidaknya menjadi objek penelitian, bagaimana konsep sosiologi pengetahuan dimanfaatkan untuk kepentingan teori sastra.

Akhirnya, Fokkema dan Kunne-Ibsch menekankan kembali tujuan buku ini. Bahwa keduanya tidak bermaksud menjawab simpang-siur aliran-aliran teori sastra, namun sejumlah masalah mendasar mengenai studi ilmiah sastra dapat dihadapi dengan pemahaman baru. Memang, membaca buku ini, kita banyak disuguhi pemahaman baru mengenai berbagai aliran teori sastra secara sangat mendasar dan lebih jelas. Tak pelak lagi, bagi peminat sastra, khususnya mereka yang ingin mendalami teori dan kritik sastra, buku ini dapatlah dijadikan sebagai acuan penting yang mesti dicermati

 http://mahayana-mahadewa.com/

Jumat, 09 September 2011

flash fiction - drame

Saat-saat yang menyedihkan bagiku saat ini. Ditinggal oleh lelaki itu.
Aku menangis.
 Meratap. 
 
Jatuh.

 putus asa.  

Sakit.

Hina.

Hampa.

Pupus.

Malang.

Teriris.

 Meronta.

Merengkuk.

Terbuang.

Tersisihkan.

Terjebak.

Tertusuk.

Terjun.

Gelap.

 Lupuh.

Merintih.

Menyesal.

Lemah.

Rusak.

Terasingkan.

 Tertatih.

Gersang.

 Kering.

Dingin.

Jauh.

Gila.

Terasuk.

Kaku.

Hilang.

Menyerah.


Mungkin aku harus mencari yang baru.




~deasy A 

Selasa, 06 September 2011

Alhamdulillah, ya.

well, aku sangat menantikan saat saat liburan sekolah. Entah itu libur lebaran, ataupun libur semesteran. sebenarnya aku ingin menyarankan pemerintah untuk mengadakan libur musim panas. alhasil itu hanya isapan jempol belaka (pastikan jempol bukan bekas ngupil), karena akan membuat siswa menjadi malas selama mereka libur 6 bulan. padahal akan sangat baik untuk kesehatan mental anak. yang sakit menjadi sehat, yang sehat menjadi lebih sehat. sayangnya ini tidak berhasil pada mental orang tua. alhasil, usulku ini tidak mungkin diterima karena pemerintah merupakan orang tua.

            seperti yang sudah kukatakan diatas, aku sangat menginginkan adanya liburan. untuk diriku sendiri, liburan merupakan penyegaran otak setelah selama ini diforsir untuk belajar, mengerjakan PR, ulangan, dan berkali kali putus cinta disekolah (nah loh?). liburan merupakan waktu yang baik untuk bermain dan menghabiskan tempat-tempat wisata bersama teman-teman. Namun, ini tidak terjadi denganku. Mendekam, diam seribu bahasa, tak tahu harus kemana, tak ada arah, hampa dan gelisah. Arrrrrghhhh! (?)

2 minggu. Cukup lama memang. Tapi tidak cukup bagiku untuk sebuah liburan anak SMA! Tolonglah, kami benar benar haus akan libur, kami benar-benar membutuhkan hari-hari bebas setelah selama ini diasah dan digerus lalu diamplas hingga mengkilat dengan belajar. Tetapi, waktu 2 minggu yang diberikan oleh sekolah itu, tidak berjalan efektif untukku. Memang awalnya aku berharap dapat menghabiskan seluruh sisa libur indahku dengan list-list yang sudah kubuat untuk hari itu. Namun, apa daya tangan tak ada. Terpotong oleh harapan kosong yang hanya mengiangi otak yang sedang galau ini. Hingga akhirnya semua list yang sudah kubuat pupus, hilang, pergi, musnah, terbakar, terlindas, tergencet, terpental, dan termutilasi. Lihat betapa parahnya diriku.

Hal ini terjadi pada saat awal liburan. Waktu itu tanggal 24 agustus. Di kamar aku menari kegirangan dengan meneriakkan beberapa yel.
            “yes! Yes! Huuuuuuuu yeee! Libur, libur, libur! Free! Free! Free!” tentu saja diikuti dengan tarian seperti tarian penyambut jenazah. Namun tiba-tiba sesuatu terjadi. Bletak. DUK! Yes. Kaki. Jatuh. Patah. Sakit. Merintih. Malu. Mewek. Ibarat seseorang yang sedang jatuh cinta, rasanya seperti dipermainkan, ditolak mentah-mentah, di ejek, di campakkan dan ditendang. Sakit. Sakit lahir batin. Mamaku yang sedang menyapu ruang tengah penasaran lalu datang kekamarku.
            “ngapain kamu ngesot-ngesot disitu? Kasiannya anak mama. Sepertinya butuh perhatian khusus.”
            Hati ini bertambah teriris.
           
            hari ke-2 libur lebaran. Rencananya hari ini aku dan teman-temanku pergi cuci mata nke salah satau mall di kota kami. Tetapi, ya kamu tahu, lah. Kaki ini tidak mampu untuk berpijak. Dengan mata tertutup karena masih mengantuk aku mengetik sebuah sms kepada temanku. Isinya pembatalan rencana hari ini. Alhasil saat aku berhasil membuka mata, aku melihat tulisanku tidak terbaca. Oke. Bukan merupakan prestasi yang baik sepertinya dalam hal pengetikan tulisan di handphone.

            Aku bangkit dari tempat tidur dan beranjak keluar dengan berjalan tidak sempurna. Ibaratnya seperti metamorfosis yang tidak sempurna. Ibaratnya lagi seperti kucing dalam karung. Aku mengambil posisi yang bagus duduk diatas sofa disamping adik sepupuku yang datang dari Surabaya kemarin. Anaknya masih berumur.. ehm.. entahlah. Pokoknya sekarang dia duduk di kelas 4 SD dan rajin menabung. Dia sepertinya antusias sekali dengan acara yang ada di televisi. Ternyata beritanya tentang seorang kakek yang di kunyah habis-habisan oleh sekelompok anjing kelaparan saat ia sedang berkunjung kerumah saudaranya.
            “wah selera anjing-anjing itu lumayan bagus, ya.” Aku bergumam sendiri
            “aku tidak jadi ambil kelincinya embak, deh. Nanti kalau kelincinya kelaparan aku jadi makanannya dong.” Adikku menyahut. Kebetulan saat itu aku memiliki kelinci yang baru saja melahirkan. Akhirnya adikku pun mengurungkan niatnya untuk memelihara seekor kelinci.

            Hari ini berjalan sebagaimana membosankannya. Dengan kondisi kaki yang perlu reparasi. Dan aura liburan yang membuat diri ini menjadi malas mandi. Dan makanan yang berjubel di meja makan. Heeem.. menggiurkan. Salah siapa coba menaruh makanan enak diatas meja makan. Salah satu mendol yang merekah-rekah menggodaku untuk memakannya. Jadilah mereka semua travelling kedalam perutku. Hahahaha. Hari ini aku benar-benar menjadi more-than-a-pig.


Hari ke tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, dan sepuluh berjalan sebagaimana membosankannya. Pada hari ke-lima kakiku sudah baikan. Tidak ada lagi cewek ngesot-ngesot yang butuh perhatian lebih. Pada hari kesembilan aku dan keluarga berangkat ke Surabaya dan bersilaturahmi disana. Dan hari-hari selanjutnya aku habiskan di kota tersebut. Memang tidak ada yang spesial dalam liburan kali ini. Ini semua gara-gara tarian penyambut jenazah yang aku lakukan di hari pertama liburan. Semua schedule bermain hilang karena insiden itu. Tapi aku tetap bersyukur, walaupun kaki ku tidak mendukung dalam acara liburan kali ini, yang penting bayi-bayi kelinciku tetap sehat dan ceria. Walaupun di hari-hari terakhir dua anak kelinci tersebut mati. Mungkin karena belum di imunisasi. Maklum semua posyandu sedang tutup. Dan sebenarnya aku juga tidak tahu apa hubungan antara kaki yang keseleo dengan bayi kelinci yang sehat.

            Sekian cerita liburan lebaranku kali ini. Mohon maaf lahir dan batin. Wassalamualaykum wr.wb.

Senin, 05 September 2011

jaringan client-server

Client-server computing adalah suatu pendekatan bagi penggunaan Jaringan komputer yang didasarkan pada konsep bahwa sebagian fungsi paling baik ditangani secara lokal dan sebagian paling baik ditangani secara terpusat. Terlihat bahwa client-server merupakan campuran antar timesharing yang terpusat dan distributed processing yang menekankan pemrosesan lokal. Client server dapat mencakup WAN tetapi konfigurasi dasarnya terdiri dari satu atau  beberapa LAN
Pada jaringan client-server yang umum, pemrosesan aplikasi dibagi atas beberapa client dan satu atau beberapa server. Client adalah pemakai yang mengakses jaringan melalui komputer destop. Server dap berupa komputer jenis apapun yang menyediakan fungsi pengendalian bagi Jaringan komputer.
Jika jaringan client-server  diterapkan dengan configurasi yang canggih, system apapun dalam jaringan dapat mengakses dan menggunakan system lain yang tersedia. Dengan cara ini kapasitas yang tidak digunakan dari suatu destop dapat digunakan oleh destop lain yang berada dalam jaringan. Atau pekerja dapat diturunkan (downloaded)  ke destop dari server.
Perhatian pada client-server computing saat ini merupakan hasil dari berbagai daya teknologi, ekonomi dan organisasi yang bekerjasama. Daya teknologi mencakup kemajuan dalam perkembangan komputer mikro dan teknologi transmisi data, system manajemen database  yang disesuaikan untuk penggunaan jaringan. Daya ekonomi diterapkan pada penggunaan sumberdaya informasi yang efisien. Daya organisasi ditimbulkan oleh end-user computing.
Pada lingkunganclient-server, spesialis informasi berfokus pada aplikasi-aplikasi utama yang berjalan di server, dan pemakai pengembangan aplikasi yang berjalan di destop mereka. Agar manfaat client-server bermanfaat sepenuhnya, aplikasi harus dikembangkan secara khusus untuk berjalan dalam lingkungan ini.
Saat ini hampir semua perusahaan besar, sedang dalam proses mengubah aplikasi mereka dari mainframe ke lingkungan client-server, namun para CIO mendekati perubahan itu dengan berhati-hati karena mereka menyadari bahwa biaya-biaya sebenarnya dari client-server belum sepenuhnya dipahami. Walau client-server tidak diragukan lagi merupakan gelombang masa depan, pendekatan ini tidak diharapkan menjauhi mainframe.
taken from: http://zulidamel.wordpress.com/2007/10/02/client-server/

TIPS MENGHADAPI TEMAN YANG PELUPA

Dalam kehidupan ini biasanya kita menemukan teman yang memorinya sedikit pendek. bahkan sangat pendek. Terkadang hal ini bisa merugikan teman-temannya yang lain. Namun bisa juga menguntungkan. tapi sayangnya keuntungan ini sering disalah gunakan oleh kawannya yang lain. Nah, jika salah satu teman atau sahabat kamu ada yang pelupa, ini dia tipsnya:

1. semangati dia
    orang pelupa itu sebenarnya frustasi lho dengan kekurangannya yang satu ini. Sebenarnya dia tidak menginginkan sesuatu yang penting dan seharusnya diingat dengan baik tiba-tiba hilang dalam memori otaknya. Akibatnya dia bisa saja menyesali dirinya bahkan mebenturkan kepalanya sendiri ke tembok *just kidding ^^v*. untuk kasus yang satu ini, kamu harus bisa menyemangatinya, dengan cara membantunya merekamkam dengan baik dalam memori otaknya. Misalnya dengan mengingatkan, menanyakan, dan membuatkan list untuknya. Sesuatu yang diulang-ulang akan dengan sendirinya terekam dengan otak.

2. sabar
   Cukup menjengkelkan jika kita menitipkan sesuatu yang penting kepada seseorang, namun tidak dilaksanakan dengan baik. Alasannya apalagi jika bukan lupa. Ini sering terjadi pada orang-orang yang pelupa yang dititipkan suatu pesan penting oleh temannya. Jika kamu mengalami hal seperti ini. Sabar saja. Jangan keburu emosi. Toh dia memang tidak mau hal ini terjadi. Jangan sampai karena hal ini dia membenturkan kepalanya kembali. Saran saya, lain kali jika menitipkan sesuatu ke temanmu yang pelupa tersebut, rajin-rajinlah mengingatkannya. Jangan lupa untuk mengingatkan temanmu tersebut untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Intinya beri dia kesempatan untuk berubah.

3. tetap beri kepercayaan
   Biasanya, orang yang pelupa memiliki hasil kerja yang cenderung lebih buruk daripada orang yang memorinya bagus. Hal ini kadang membuat kita sedikit ragu untuk menitipkan kepercayaan pada si pelupa. Seperti yang sudah saya katakan tadi, sebenarnya orang pelupa itu tidak mau kok menjadi pelupa. Mereka ingin seperti orang-orang lainnya yang dengan mudah mengingat sesuatu. Untuk itu, tetap beri mereka kepercayaan. Kita sebagai orang yang berada disekitarnya harus telaten men-support si pelupa ini agar dia mampu bergerak dari belenggu memorinya yang pendek. Caranya dengan tetap memberikan kepercayaan untuk mengerjakan sesuatu yang membutuhkan ingatan. Memang membutuhkan perhatian khusus dengan terus mengingatkannya. Lama-lama teman kita yang pelupa ini akan bangkit kepercayaan dirinya sehingga dia tidak merasa dikucilkan lagi karena memori pendeknya tersebut. Dan mungkin dia akan berhenti membenturkan kepalanya. J



Created by : beginner pelupa yang sedang galau

PEER TO PEER NETWORK

1.Pengantar

Jaringan P2P (peer-to-peer) telah lahir dan berkembang secara dramatis seiring meledaknya teknologi informasi dan komunikasi. Di abad internet saat ini, para netter tentu sudah pasti tidak asing lagi dengan nama Gnutella, Kazaa, atau Napster. Ketiga nama ini merupakan contoh jelas dan sederhana untuk menggambarkan betapa hebatnya sebuah jaringan yang bersifat “persahabatan/pertemanan”.
Gebrakan awal teknologi ini dipelopori oleh Usenet News Servers yang banyak didominasi/diisi dengan newsgroup. Tom Truscott dan Jim Ellis, dua mahasiswa yang membuat aplikasi untuk Usenet, mungkin tidak akan menyangka kalau aplikasi yang dulu mereka buat kini telah mampu mengubah paradigma manusia tentang banyak hal. Salah satunya adalah mengenai hak cipta (copyright), yang sampai sekarang masih menjadi polemik dunia industri musik di Amerika Serikat. Jadi, jika ada netter yang buta tentang teknologi ini, mungkin dia termasuk orang yang telah tidur selama 9 bulan di atas kasurnya tanpa pernah membuka mata sedetik pun. Ini adalah sindiran Todd Sundsted, Chief Architect dari PointFire, Inc. yang menulis artikel di situs IBM tentang teknologi sederhana nan mengagumkan ini.


2.Sejarah Singkat P2P

Tahun 1979, Usenet, sebuah aplikasi terdistribusi (baca: tidak tersentralisasi/ distributed) yang dibuat oleh Tom Truscott dan Jim Ellis, lahir di Amerika Serikat. Aplikasi ini umumnya melayani penggunanya dengan newsgroup. Pada tahun-tahun itu, dunia belum mengenal dan mampu menikmati layanan internet sebaik dan secepat seperti saat ini. Umumnya, berkas-berkas yang berada di dalam komputer milik pengguna usenet dipertukarkan dalam bentuk batch files (berkas yang berisi data yang diproses atau ditransmisikan mulai dari awal hingga akhir). Biasanya, para pengguna saat itu saling bertukar data di malam hari yang larut. Itu adalah waktu di sebuah negara besar ketika jalur telepon untuk SLJJ (sambungan langsung jarak jauh) sedang sepi. Akibatnya, tidak ada cara yang efektif untuk membuat fungsi aplikasi ini menjadi tidak terdistribusi. Dengan kata lain, aplikasi ini tetap menjadi aplikasi yang tidak memiliki pusat kendali (server). Bahkan hingga hari ini.
Aplikasi P2P generasi awal lain yang sukses dan populer adalah FidoNet. Laiknya Usenet, FidoNet juga digunakan secara terdistribusi. Aplikasi ini dibuat oleh Tom Jennings pada tahun 1984 sebagai cara untuk bertukar pesan diantara pengguna-penggunanya yang memiliki BBS (Bulletin Board System) yang berbeda.
Baik Usenet maupun FidoNet dapat menjadi contoh betapa hebatnya teknologi P2P. Sampai detik ini, keduanya masih lestari. Uniknya, sekarang keduanya sudah tidak sendiri lagi. “Cucu-cucu” mereka sudah lahir dan ikut menggebrak dunia maya. Sebut saja Gnutella, Kazaa, Napster, dsb.


3.Pengertian P2P

Jaringan komputer P2P termasuk sebuah cabang (subset) dari bidang komputasi terdistribusi. Namun komputasi terdistribusi sendiri bukanlah cabang dari P2P. Sebutan “peer-to-peer” mengisyaratkan sebuah hubungan kesetaraan (egalitarian relationship) diantara para peer (baca: pengguna satu dengan yang lainnya). Dan yang terpenting, hubungan ini haruslah menghasilkan interaksi langsung antara komputer pengguna yang satu dengan komputer pengguna lainnya. Tanpa embel-embel ada komputer yang berstatus sebagai client dan berstatus sebagai server.
Secara teknis, jaringan P2P (peer-to-peer) adalah sebuah jaringan yang memungkinkan semua komputer dalam lingkungannya bertindak/berstatus sebagai server yang memiliki kemampuan untuk mendistribusikan sekaligus menerima berkas-berkas atau sumber daya (resource) yang ada dalam komputer mereka ke komputer lainnya.
Jaringan bertipe ini sangat banyak dijumpai di kantor-kantor yang tidak membutuhkan sebuah sentral pengaturan laiknya jaringan client-server. Di internet, jaringan P2P hidup dan berkembang melalui aplikasi-aplikasi populer seperti Napster dan Gnutella.


4.Klasifikasi P2P

Berdasarkan tingkat/derajat sentralisasinya, jaringan P2P terbagi ke dalam 2 tipe, yakni:


1.P2P Murni (Pure P2P), dengan ciri-ciri sebagai berikut:


Masing-masing peer berstatus setara (egaliter), setiap peer berstatus sebagai client juga server.


Tidak ada server pusat yang mengatur jaringan.


Tidak ada router yang menjadi pusat jaringan.


1.P2P Hybrid (Hybrid P2P), dengan ciri-ciri sebagai berikut:


Mempunyai server pusat yang memantau dan menjaga informasi yang berada di setiap peer sekaligus merespon peer ketika ada yang meminta informasi itu.


Setiap peer bertanggung jawab untuk menyediakan resource yang tersedia. Hal ini terjadi karena server pusat tentu diatur sedemikian rupa untuk tidak memilikinya. Selain itu, hal ini juga dilakukan agar server pusat tersebut dapat mengetahui resource apa saja yang akan didistribusikan di dalam jaringan.


Ada router yang menjadi pusat jaringan.



5.Manfaat P2P
Tujuan utama dari jaringan P2P adalah agar semua peer dapat menyediakan sekaligus memanfaatkan resource komputer, termasuk bandwith, media penyimpanan, dan kemampuan komputasi yang ada di dalam jaringan tersebut. Dengan demikian, ketika node-node (komputer-komputer) telah banyak terhubung dan terjadi banyak permintaan terhadap sistem, kapasitas total yang dimiliki oleh sistem juga akan meningkat. Hal ini merupakan kontraproduktif dengan apa yang terjadi pada sistem client-server. Dalam sistem client-server, bertambahnya client justru dapat menyebabkan melambatnya transfer data di dalam sistem.
Sifat terdistribusi yang dimiliki oleh jaringan P2P ini juga dapat meningkatkan kestabilan/kekokohan (robustness) sistem dari kemungkinan kegagalan (system failure). Kestabilan ini disebabkan oleh dua faktor. Pertama, adanya replikasi/penggandaan data yang terjadi di antara para pengguna (peer). Kedua, dengan memanfaatkan resource komputer peer itu sendiri untuk mencari data yang ada di dalam jaringan tanpa mengandalkan satu resource komputer server saja.


6.Topologi Jaringan P2P

Shuman Ghosemajumder dalam makalahnya yang berjudul Advanced Peer-Based Technology Business Models yang diterbitkan pada tahun 2002 membagi topologi jaringan P2P ke dalam 2 tipe. Berikut tipe-tipe tersebut:


1.Centralized Model

Model ini adalah model yang digunakan oleh Napster. Semua peer (pengguna) akan terhubung ke satu atau sekelompok (cluster) server. Server ini berfungsi untuk memfasilitasi (baca: sebagai mediator) hubungan antara peer dalam jaringan tersebut. Server tersebut dapat memainkan satu, dua atau ketiga peran berikut ini:


Discovery. Server yang memainkan peran ini akan meyimpan informasi tentang user yang sedang terhubung ke dalam sistem sekaligus memungkinkan semua user untuk mengetahui bagaimana cara menghubungi user tertentu yang sedang berada di dalam jaringan.


Lookup. Server dengan peran lookup memiliki kemampuan server dengan peran discovery. Hanya saja, server ini juga akan menyediakan mekanisme pencarian yang tersentralisasi.


Content Delivery. Dalam peran ini, peer akan meng-upload semua atau beberapa data (content) milik mereka ke server pusat. Dengan cara ini, proses transfer data menjadi relatif lebih cepat ketimbang dengan kedua model peran sebelumnya. Dengan beberapa pertimbangan keadaan tentunya.

Gambar topologi model tersentralisasi dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini:
Gambar 1: Model P2P tersentralisasi
Model ini membutuhkan sebuah atau beberapa server yang digunakan untuk melakukan beberapa tugas atau fungsi tertentu


2.Decentralized Model

Model ini akan membuat semua peer memiliki status dan fitur yang sama dalam sebuah jaringan. Jadi, tidak akan ada server atau client di dalamnya. Contoh aplikasinya adalah Freenet. Dalam model terdesentralisasi, seorang peer tidak akan dapat mengetahui jumlah peer lainnya yang sedang terhubung di dalam jaringan. Selain itu, seorang peer juga tidak akan dapat mengetahui alamat dari peer lain yang akan dihubunginya. Satu lagi kekurangan model ini adalah bahwa peer tidak dapat mengetahui isi (content) komputer milik peer lainnya yang sedang tersedia dalam jaringan.
Meskipun begitu, model desentralisasi juga memiliki kelebihan. Diantaranya berkaitan dengan masalah keamanan, baik itu dilihat dari segi teknologi maupun hukum hak cipta. Dari segi teknologi, model desentralisasi menguntungkan karena akan lepas dari kemungkinan satu serangan tunggal yang dapat mematikan jaringan. Sedangkan dari segi hukum hak cipta, meskipun masih menyisakan bias, model ini relatif lebih bebas dari jerat undang-undang hak cipta karena content yang tersebar dalam jaringan merupakan data yang hendak saling dipertukarkan. Bukan untuk dijual atau dibajak.

7.Kesimpulan
Dari uraian di atas kita dapat mengambil beberapa poin sebagai kesimpulan. Berikut poin-poin tersebut:


Teknologi P2P masih akan terus berkembang selaras dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.


Semakin besar jumlah user yang menjadi peer dalam sebuah jaringan P2P maka akan semakin bagus pula jaringan tersebut. Baik jika dilihat dari sisi teknologi maupun sosial.


Berdasarkan derajat sentralisasinya, P2P terbagi ke dalam dua bagian, yakni; P2P Mmurni dan P2P Hybrid.


Berdasarkan topologinya, P2P terbagi ke dalam dua bagian, yakni; topologi model tersentralisasi, dan model terdesentralisasi.


Masing-masing kategori P2P memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. User dapat memilih kategori mana yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.


Keberadaan jaringan P2P masih sering menimbulkan konflik dalam hal hak cipta suatu karya intelektual. Terutama dalam dunia industri hiburan seperti musik, TV dan film.




Minggu, 07 Agustus 2011

Flash fiction by others

habis cari-cari flash fiction, ini yang menurutku bagus. happy reading :)

SYUKUR

Riuh air menimpa genteng. Gemuruh hujan yang datang dari tempat jauh membuatnya terjaga.

“ Hujan sialan.” Dia bangkit dari dipannya yang gelisah.

Dari jendela, dia memandang emperan toko tak jauh dari kamar kontrakannya. Seorang pengemis terlihat berdiri merapat ke rolling door.


BULAN PUASA

Ia belum lagi menstater mercy-nya, saat matanya tertumbuk pada sosok pengemis yang tadi disedekahinya digerbang mesjid.
“ Loh kamu, ini kan bulan puasa ? “
“ Tuan puasa ? “ Pengemis itu tersenyum, lalu kembali menyuap nasi bungkusnya.
“ Tentu sa..”
“ Bagus, tuan memang wajib berpuasa sebulan ini “ kata pengemis itu.
“ Kamu sendiri mengapa tidak puasa ? ”
“ Kami sudah berpuasa 11 bulan tuan, gantian ! ”


MANUSIA KERABAT HEWAN


“ Tabrak lari ! Ah..ha, if it bleeds, it leads.“ kata kameramenku.
Tapi kesumringahannya lesap seketika kerumunan manusia yang tertarik menjelma pagar betis.
“ Tenang, aku punya akal. “ kataku.
Aku menyeruak kedalam kerumunan meniru gerakan perenang gaya dada,“ tolong minggir, kami keluarga korban.“
Mendadak beberapa wajah paling depan berpaling, tak percaya? Hening, namun sebuah lorong dibuka, berhasil mengantarku tepat ketempat dimana korban berada.
Keheningan berlalu. Satu persatu orang mulai tertawa. Ironisnya, aku juga ingin tertawa seperti mereka. Namun tak mudah bagiku untuk tertawa dengan mulut menganga, memandangi seekor kambing tak bernyawa, tergolek tepat diujung kakiku.

taken from http://antojournal.com/


Cerita Kecil di Musim Hujan


Alangkah rajin gadis ini! Pagi-pagi sekitar pukul lima ia sudah bangun dan mencuci piring dan membilas pakaian dan meracik sarapan sebelum berangkat sekolah. Tiga tahun lalu ibunya terlanggar mobil truk hingga lumpuh, kini bersandar hidup pada kursi roda yang ia belikan untuk ulang tahun ke-41 ibunda tercinta. Di malam hari sebelum berangkat tidur, diam-diam gadis ini sering keluar malam, kadang sampai jam satu malam berdiri di trotoar jalan menjual madu bagi siapa saja yang haus, butuh kehangatan di musim hujan, biasanya sopir-sopir truk kelelahan yang paling sering jadi pelanggan. Nama gadis ini? Ah, sebut saja Bunga. Bunga yang Layu.


taken from http://sastra-indonesiaraya.blogspot.com/2011/03/prose-poem-flash-fiction.html


KUCING-KUCINGKU


Dinamainya kucingnya kali ini Dewi Ratna Mustikasari.
"Ah, tak ada yang aneh sob, ini yang yang aneh. Empat kucingku yang terdahulu aku namakan wage,kliwon,pahing dan manis. semuanya mati mengenaskan di hari pasaran sesuai nama mereka! Aku gak mau kehilangan lagi, tidak boleh lagi!"

Si wage mati empat tahun lalu tepat di hari rebo wage, kelindes truk yang mengangkut tebu, selang 6 bulan kemudian giliran si kliwon terlindas lori saat menyebrang rel di hari kamis kliwon. Tahun lalu aku kehilangan pahing dan manis. Senin pahing di awal Februari, si pahing ditembak sekumpulan anak kampung sebelah. Minggu legi sebelum natal, si manis sedang tidur di dapur ketika tabung gas 3kg meledak.

"Kau yakin dengan mengganti nama kucingmu dari kebiasaan selama ini bakal menyelamatkan kucingmu?”
"Semoga saja, Res!"
"Lalu kau panggil apa kucingmu si Dewi Ratna Mustikasari itu?"
"puusssss!!!"