Selasa, 06 September 2011

Alhamdulillah, ya.

well, aku sangat menantikan saat saat liburan sekolah. Entah itu libur lebaran, ataupun libur semesteran. sebenarnya aku ingin menyarankan pemerintah untuk mengadakan libur musim panas. alhasil itu hanya isapan jempol belaka (pastikan jempol bukan bekas ngupil), karena akan membuat siswa menjadi malas selama mereka libur 6 bulan. padahal akan sangat baik untuk kesehatan mental anak. yang sakit menjadi sehat, yang sehat menjadi lebih sehat. sayangnya ini tidak berhasil pada mental orang tua. alhasil, usulku ini tidak mungkin diterima karena pemerintah merupakan orang tua.

            seperti yang sudah kukatakan diatas, aku sangat menginginkan adanya liburan. untuk diriku sendiri, liburan merupakan penyegaran otak setelah selama ini diforsir untuk belajar, mengerjakan PR, ulangan, dan berkali kali putus cinta disekolah (nah loh?). liburan merupakan waktu yang baik untuk bermain dan menghabiskan tempat-tempat wisata bersama teman-teman. Namun, ini tidak terjadi denganku. Mendekam, diam seribu bahasa, tak tahu harus kemana, tak ada arah, hampa dan gelisah. Arrrrrghhhh! (?)

2 minggu. Cukup lama memang. Tapi tidak cukup bagiku untuk sebuah liburan anak SMA! Tolonglah, kami benar benar haus akan libur, kami benar-benar membutuhkan hari-hari bebas setelah selama ini diasah dan digerus lalu diamplas hingga mengkilat dengan belajar. Tetapi, waktu 2 minggu yang diberikan oleh sekolah itu, tidak berjalan efektif untukku. Memang awalnya aku berharap dapat menghabiskan seluruh sisa libur indahku dengan list-list yang sudah kubuat untuk hari itu. Namun, apa daya tangan tak ada. Terpotong oleh harapan kosong yang hanya mengiangi otak yang sedang galau ini. Hingga akhirnya semua list yang sudah kubuat pupus, hilang, pergi, musnah, terbakar, terlindas, tergencet, terpental, dan termutilasi. Lihat betapa parahnya diriku.

Hal ini terjadi pada saat awal liburan. Waktu itu tanggal 24 agustus. Di kamar aku menari kegirangan dengan meneriakkan beberapa yel.
            “yes! Yes! Huuuuuuuu yeee! Libur, libur, libur! Free! Free! Free!” tentu saja diikuti dengan tarian seperti tarian penyambut jenazah. Namun tiba-tiba sesuatu terjadi. Bletak. DUK! Yes. Kaki. Jatuh. Patah. Sakit. Merintih. Malu. Mewek. Ibarat seseorang yang sedang jatuh cinta, rasanya seperti dipermainkan, ditolak mentah-mentah, di ejek, di campakkan dan ditendang. Sakit. Sakit lahir batin. Mamaku yang sedang menyapu ruang tengah penasaran lalu datang kekamarku.
            “ngapain kamu ngesot-ngesot disitu? Kasiannya anak mama. Sepertinya butuh perhatian khusus.”
            Hati ini bertambah teriris.
           
            hari ke-2 libur lebaran. Rencananya hari ini aku dan teman-temanku pergi cuci mata nke salah satau mall di kota kami. Tetapi, ya kamu tahu, lah. Kaki ini tidak mampu untuk berpijak. Dengan mata tertutup karena masih mengantuk aku mengetik sebuah sms kepada temanku. Isinya pembatalan rencana hari ini. Alhasil saat aku berhasil membuka mata, aku melihat tulisanku tidak terbaca. Oke. Bukan merupakan prestasi yang baik sepertinya dalam hal pengetikan tulisan di handphone.

            Aku bangkit dari tempat tidur dan beranjak keluar dengan berjalan tidak sempurna. Ibaratnya seperti metamorfosis yang tidak sempurna. Ibaratnya lagi seperti kucing dalam karung. Aku mengambil posisi yang bagus duduk diatas sofa disamping adik sepupuku yang datang dari Surabaya kemarin. Anaknya masih berumur.. ehm.. entahlah. Pokoknya sekarang dia duduk di kelas 4 SD dan rajin menabung. Dia sepertinya antusias sekali dengan acara yang ada di televisi. Ternyata beritanya tentang seorang kakek yang di kunyah habis-habisan oleh sekelompok anjing kelaparan saat ia sedang berkunjung kerumah saudaranya.
            “wah selera anjing-anjing itu lumayan bagus, ya.” Aku bergumam sendiri
            “aku tidak jadi ambil kelincinya embak, deh. Nanti kalau kelincinya kelaparan aku jadi makanannya dong.” Adikku menyahut. Kebetulan saat itu aku memiliki kelinci yang baru saja melahirkan. Akhirnya adikku pun mengurungkan niatnya untuk memelihara seekor kelinci.

            Hari ini berjalan sebagaimana membosankannya. Dengan kondisi kaki yang perlu reparasi. Dan aura liburan yang membuat diri ini menjadi malas mandi. Dan makanan yang berjubel di meja makan. Heeem.. menggiurkan. Salah siapa coba menaruh makanan enak diatas meja makan. Salah satu mendol yang merekah-rekah menggodaku untuk memakannya. Jadilah mereka semua travelling kedalam perutku. Hahahaha. Hari ini aku benar-benar menjadi more-than-a-pig.


Hari ke tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, dan sepuluh berjalan sebagaimana membosankannya. Pada hari ke-lima kakiku sudah baikan. Tidak ada lagi cewek ngesot-ngesot yang butuh perhatian lebih. Pada hari kesembilan aku dan keluarga berangkat ke Surabaya dan bersilaturahmi disana. Dan hari-hari selanjutnya aku habiskan di kota tersebut. Memang tidak ada yang spesial dalam liburan kali ini. Ini semua gara-gara tarian penyambut jenazah yang aku lakukan di hari pertama liburan. Semua schedule bermain hilang karena insiden itu. Tapi aku tetap bersyukur, walaupun kaki ku tidak mendukung dalam acara liburan kali ini, yang penting bayi-bayi kelinciku tetap sehat dan ceria. Walaupun di hari-hari terakhir dua anak kelinci tersebut mati. Mungkin karena belum di imunisasi. Maklum semua posyandu sedang tutup. Dan sebenarnya aku juga tidak tahu apa hubungan antara kaki yang keseleo dengan bayi kelinci yang sehat.

            Sekian cerita liburan lebaranku kali ini. Mohon maaf lahir dan batin. Wassalamualaykum wr.wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar